Kamis, 06 Juni 2019

[FOLKTALE] kisah Langit



Biru langit menjadi lebih pekat. Cahaya yang menyorot-nya memilih menghindar perlahan. Saat biru langit sudah tak ada lagi, warna antagonis-nya berpindah peran. Menghitam, gelap, kosong tanpa batas.
Kemudian bintik-bintik kecil mulai muncul pada-nya. Dengan ribuan kedipan cahaya tersebar merata di seluruh bagian-nya. Bintik-bintik kecil seakan ingin membantu langit mengembalikan warna biru-nya.
Mereka adalah para bintang. Tak puas dengan bintik-bintik cahaya bintang, langit meminta bantuan pada pembawa cahaya yang lebih terang. Cahaya bulat tanpa cela. Bulan. Cahaya bulan menyinari langit lebih baik dari kedipan para bintang. Tapi, kehadiran mereka masih saja tak mampu membawa kembali biru langit.
Keramaian manusia yang terus berdengung dibawah biru langit pada akhirnya menghilang. Ini artinya, batas kesabaran waktu tunggu manusia mencapai klimaks. Manusia lelah menunggu kembalinya biru langit memilih masuk ke rumah-rumah mereka. Bersembunyi di dalamnya. Meringkuk diatas dipan kayu, dibawah selimut kapas. Hewan yang juga berharap pada biru langit berganti tugas dengan rekan mereka, para nokturnal.
Langit yang ditinggal sendiri samar-samar dilanda kesepian. Semangat untuk mencari cahaya yang lebih besar pelan-pelan memudar. Langit berputus asa mencari warna biru-nya. Memutuskan hanya ingin menunggu saja.
Tak tahu telah berapa lama langit terjaga sendiri, bertahan menunggu biru langit milik-nya kembali, dari ujung jangkauan langit muncul semburat kuning. terus merayap, mendekat, melebarkan kekuasaannya. Cahaya itu membawa biru langit di belakang pijakannya. Tak lupa langit bertanya pada cahaya yang sangat besar itu, agar kelak langit tak perlu menunggunya lagi. “Perkenalkan, cahaya matahari” katanya. Langit sangat bahagia waktu itu. dia telah pantas disebut biru langit.
Namun, Kebahagiaan biru langit nyatanya hanya semu. Cahaya matahari berlalu. Langit tak mampu menahan kehadirannya untuk tetap disitu, didekat-nya, menjadi cahaya-nya. Kegelapan kembali lagi. Kini hanya hamparan langit hitam yang mampu tersaji untuk penghuni bumi. Para bintang bersembunyi sebab malu karena tak mampu membantu. Begitu juga bulan.
Ternyata hitam dan biru langit selalu datang dan pergi. Saling bertukar posisi bilamana datang giliran masing-masing. Saling terkait, menjadi sebuah siklus. Tak menghiraukan langit yang masih saja menolak menerima hukum alam. Siklus gelap dan terang terus berlanjut. Manusia memberinya nama pagi dan petang, Siang dan malam. Langit malam. Itu nama barunya. Langit mematri nama itu dimemorinya. langit belajar untuk mulai menyukainya.
Ada masa Langit masih saja menderita kesepian dalam gelap. Langit masih merindukan warna biru.
***
Andaikan aku mampu memberitahu langit jika aku menyukai gelapnya. Menyukai malamnya. Menyukai sunyi yang dibawanya. Mengatakan pada langit malam bahwa aku memilihnya. Mengatakan bahwa ada yang menemaninya dalam gelap. Mungkin langit akan menyukai malam seperti dia menyukai biru langit. tak perlu menghawatirkan kesendirian.
Berbeda dengan biru langit. aku menyukai malam. Malam memberiku kesempatan untuk megenal diriku lebih dalam. Malam menyelamatkanku dari kebisingan dunia yang terlalu nyata.  Malam memelukku agar aku lebih tenang menghadapi arus pasang surut menjadi manusia. Malam membuatku menikmati diriku sendiri, memberi ruang kebebasan untukku sendiri. Malam mengijinkanku untuk bermimpi. Malam menghapus ketakutanku untuk hidup.
Langit, aku harap kau memberi ku kegelapan yang lebih panjang untuk malam ini.



Sabtu, 09 Maret 2019

[FOLKTALE] Maali

Namanya Maali. Dia merasa sangat bahagia ketika menatap padang rumput di depannya. Padang rumput hijau di bawah langit biru bersih. Awan putih bersinar seperti gulungan bantal kapas. Matahari pun bersinar sebening kristal, memberi warna pada pohon, rumput, bunga, tupai, bahkan serangga di bawah semak pun dapat terlihat, sebab sinarnya menyebar ke seluruh penjuru tanpa pilih kasih.

Angin musim panas menyusup ke sela-sela rambut abu Maali dan menghambur menutup wajahnya tak membuat rasa bahagia Maali tergantikan. Semilir hangat yang dibawa angin menyesap ke seluruh permukaan kulit Maali. Hatinya terasa damai dan tenang, tidak ingin keindahan di depannya sirna.

Indah, tenang. Rasa syukur atas segala objek yang ditangkap matanya terlalu sempurna.

Satu hari, dua minggu, tiga bulan, empat tahun berlalu... Rasa bahagia Maali masih tetap bertahan. Negerinya yang masih sama membuatnya bahagia.
Namun satu perasaan lain telah tumbuh dalam dirinya. Sebuah rasa yang sangat berbeda dengan bahagia-nya selama ini. Rasa itu hampa, dingin, gelap dan lembab. Rasa itu membuatnya lelah. Terkadang. Karena rasa itu tak selalu muncul ke permukaan dirinya.
Rasa itu mampu menghancurkan angan-angan kebahagiaan dan ketenangan Maali sekali usap.
Walaupun tak hancur seluruhnya, tapi untuk membangun rasa bahagia-nya, kemudian dihancurkan dalam satu usapan, dia bangun kembali dan dihancurkan, membuat Maali kelelahan.
Dunia Maali yang bahagia sekarang tak lagi sama.

Sebuah rasa yang Maali rasakan di negerinya adalah rasa yang manusia rasakan oleh sepi, sebab ketenangan yang terlalu sunyi, ketenangan karena hanya seorang diri, dan kehancuran rasa akan bayangan kebahagiaan tak tergapai- rindu.

Selasa, 24 April 2018

Raga-nya adalah Kotak Besi Kosong

Ketika seseorang menyukai sesuatu. Sangat menyukainya. Sangat sangat menyukai nya. Rasa suka yang sangat dalam. 

Jika hati bisa bicara, dia pun akan mengakui, dia juga mampu merasakan rasa suka—pemilik nya itu. Atau lebih mudah kau bisa menyebut : seseorang itu sedang mencintai sesuatu. Entah sesuatu itu adalah sebuah benda, seseorang, kejadian, atau hal-hal lain hingga sulit untuk bisa dikategorikan apakah itu termasuk kata ganti verb/adverb/noun/adjective. 

Nantinya, seseorang itu pasti akan merasakan suatu keinginan. Untuk memiliki itu—sumber rasa cinta nya, menjadi bagian dari itu, menyerupai itu hingga merubah dirinya menjadi itu. Keinginan yang sangat akan sesuatu ini tumbuh semakin kuat, akhirnya berubah nama menjadi gairah. Gairah yang menciptakan mimpi dan tujuan. Gairah yang melahirkan usaha untuk mencapai nya. Tidak hanya sekedar usaha tapi kerja keras.

Di mataku, seseorang dengan rasa cinta yang amat sangat tersebut adalah orang-orang lemah. Hanya karena rasa cinta, otak dan hatinya mudah terpengaruhi. Jiwa nya sangat rapuh karena yang menjadi pengendali akan dirinya telah terisi penuh oleh perasaan cinta. Rasa cinta mereka membuat segalanya timbul berlebih. Kesenangan mereka menjadi kebahagiaan. Kesedihannya menjadi kehancuran untuk dirinya sendiri. Mereka tak terkendali. Seperti benang, mereka adalah sehelai benang yang terombang-ambing, terbawa pengaruh angin yang datang dari berbagai arah.

Menurutku, mereka adalah orang-orang remeh. Benar, aku menganggap remeh seseorang yang dengan mudahnya mencintai akan sesuatu. Tidak hanya berfokus hanya pada satu. Tapi, karena rasa cinta nya terlalu banyak,  meluap dan berceceran pada berbagai hal. 

Sebagai contoh. Seorang perempuan yang sedang jatuh cinta pada laki laki. Atau sebaliknya. Seorang sedang jatuh cinta seperti cerita dalam film, drama atau novel romantis. Seorang sedang jatuh cinta diceritakan dapat merubah apapun seperti yang dia kehendaki hanya karena ada rasa cinta dalam dirinya. Boom. Berubah, seperti sihir.  Hah, tak masuk akal akan terjadi di dunia nyata. Lagipula jika ada jenis orang-orang seperti itu di dunia nyata, mereka hanya membuang energi, pikiran, materi. Rasa cinta yang lain, seorang remaja dan idolanya. Rasa suka remaja itu bahkan tidak hanya sekedar mengidolakan. Dia mencintainya. Fans sejati. Sudah tahu apa saja kan yang akan dilakukan seorang fans sejati demi idolanya? Apapun. 

Mereka mengorbankan apapun entah itu akan merugikan atau menguntungkan. Sumber kepuasan-ketidakpuasan mereka sebenarnya terlalu sederhana. Tapi dalam dirinya terjadi gelombang tsunami perasaan yang sangat besar.

Aku sadar— beberapa waktu lalu, ternyata pikiran ku sebelumnya yang telah meremehkan tersebut salah. Aku melupakan satu hal yang sangat penting : rasa cinta telah melepaskan neurotransmiter dopamin di otak. Memberi kesenangan dan perasaan bahagia. Membangkitkan gairah motivasi yang besar untuk mencapai tujuan yang menjadi kesenangnnya. Ke-luar biasa-an yang tak bisa di sangkal.

Tapi gadis itu, ada keganjilan pada nya setelah dalam waku yang cukup lama kita dekat. Tidak ada cinta dalam dirinya. Tidak ada gairah besar muncul dalam dirinya. Jika aku menanyakan padanya apa keinginannya, keinginan yang benar-benar dia inginkan, dia terdiam dan berpikir. Cukup lama. Tapi jawaban akhirnya hanyalah aku tidak tahu. Sebenarnya, apa dia pikirkan sejak tadi? Apa yang sedang dia berusaha gali dalam pikirannya? Bukankah itu aneh? Pertanyaanku sangat sederhana kan? Tapi dia tidak menghasilkan apapun. Selain jawaban tak berguna itu, di lain waktu dia tak butuh berpikir lama untuk menjawabku, jawaban yang muncul adalah pengalihan perhatian dari pertanyaanku. Gadis itu lari. Sebenarnya dia melarikan diri dari apa? Dia menutup rapat sesuatu. 

Aku tidak tahu atas dasar apa dia bersikap seperti itu hingga suatu hari ketika aku tersadar akan hal yang selama ini aku remehkan, aku anggap rendah dan enteng : Tentang rasa cinta yang menjadi kodrat pada diri tiap manusia. Seperti yang aku bilang tadi, gadis itu tidak memiliki rasa cinta. Gadis melarikan diri karena dia berusaha menutupi, gadis itu memadamkan rasa cinta yang timbul dalam dirinya. Rasa cinta yang gadis itu telah dia padamkan, menjalar seperti konsleting. Bagian-bagian lain perasaan dirinya ikut padam, rusak, mati. 

Gadis itu mengingatkan ku pada robot yang berusaha manusia ciptakan. Manusia mengisi otak dan kecerdasan robot buatannya dengan berbagai hal menakjubkan. Tapi robot tetaplah robot. Robot hanya mampu melakukan berbagai hal yang telah di program padanya. Manusia tidak bisa menciptakan perasaan dalam robot-robot mereka. Terkuburnya rasa cinta, gadis itu menjadi kuat, tapi bagian dari diri gadis itu telah mengeras dan dingin seperti bongkahan kaleng dan besi yang sewajarnya robot miliki. Kuat tapi kosong. Brilian tapi kosong. Apapun yang membuat gadis itu menakjubkan, sejatinya, ruang hampa udara dalam dirinya tetap abadi.

Orang-orang mengatakan, mereka iri dengan kekuatan gadis itu. Mereka iri dengan ketenangan hidup gadis itu. Hidup gadis itu bagai lautan tanpa ombak, sungai tanpa arus, tiupan lembut angin tanpa menggerakkan satu helai daun pun. Damai. Hanya butuh menghirup napas dan tersenyum tiap kali gadis itu membuka mata. Itu yang orang-orang lihat pada gadis itu. Tanpa mereka ketahui, sepi- hampa- bingung- bosan adalah rasa yang tiap kali bergejolak dalam diri gadis itu. Dia lupa kapan terakir kali dilanda kesedihan yang amat sangat atau kesenangan yang meluap-luap. Untuk mengulangi perasaan-perasaan itu, gadis itu juga tak tahu bagaimana untuk memulainya. 

Disaat gadis itu harus menentukan untuk apa dirinya sebenarnya, disaat perasaannya yang telah dia kubur harus digali, beserta perasaan-perasaan lain miliknya yang tanpa sengaja juga ikut terkubur harus juga di bangkitkan, sayangnya hanya rasa putus asa yang mampu gadis itu peroleh. Perasaanya telanjur menghilang. Perasaannya terlanjur melupakan arah jalan pulangnya. Sekarang, cara yang tersisa : gadis itu dan kesungguhannya yang harus mencari perasaan-persaan nya sendiri. 

Sebenarnya ada jalan pintas yang bisa menjadi sumbu untuk api kesungguhan yang gadis itu nyalakan. Rasa yang harus gadis itu bangkitkan pertama kali adalah rasa yang pernah dia kubur pertama kali, 
— rasa cinta nya.

Yang jadi masalah, bagaimana aku memberitahu diriku tentang ini?

Rabu, 21 Februari 2018

I’ve been watching a drama of me for many years



Selama dua hari kemarin lusa begadang nonton drama yang bikin tidur dini hari. Kalau bukan karena kepala pusing dan keinget udah pagi aku belum bakal nutup laptop, berhenti. Esoknya dapat azab dua jerawat dipipi, bangun kesiangan, bangun-bangun kepala masih pusing. Kerugian lain: aku  lalai belajar materi uas karena si drama terlalu menggoda. Iya aku nyesel tapi udah telat, terlanjur.*Jangan dicontoh ya, tonton drama dengan sehat dan jaga kesadaranmu. Tapi selain efek buruk yang aku alami karena godaan si drama , aku dapat banyak pelajaran yang yang kadang sehari-hari aku sepelekan. Beruntung penyesalanku enggak sepenuhnya sia-sia.

Selama aku nonton drama, aku terpikir satu hal. Andaikan hidupku kaya drama yang aku tonton, aku akan hidup bahagia. Kalian yang suka nonton drama pasti udah hafal kalau kebanyakan drama akan berakhir bahagia, isn’t it? Dan sebagai penonton nggak jarang berandai-andai ingin jadi si tokoh happy ending drama. Ingin drama itu terjadi di kehidupan nyata kita. Ingin semujur dan seberuntung si tokoh. Apa kalian pernah punya pikiran seperti apa yang aku imajinasikan?

Tapi aku juga tersadar satu hal. Di kebanyakan drama yang menurut penilaianku bagus, hampir tidak pernah drama-drama itu punya konflik—maksudku plot twist yang terlalu sederhana. Si tokoh enggak selalu dapat nasib bahagia dari awal hingga akhir, si tokoh pasti kena masalah. Jarang yang hidupnya berjalan mulus-mulus aja kayak di negeri dongeng. Semakin rumit masalahnya dan semakin unik masalahanya, semakin bagus drama itu, menurutku.  Yang bagian punya masalahnya ini kalo dibayangin: aku enggak mau kayak gini, untung aku enggak kaya gitu. Iyakah? Padahal. Itu yang bikin dramanya jadi tambah seru. Bikin deg-deg an dan juga nguras energi si penonton *nguras perasaan tepatnya.

Di dalam drama : Ada konflik> proses penyelesaian konflik>konflik selesai> happy ending.  Jika di dunia nyata : Ada konflik kemudian tidak ada jaminan akan happy ending.  Sebab kita  sebagai tokoh, kita enggak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi dimasa depan. Ini dunia nyata, kita nggak bisa nge-skip waktu, fase adanya konflik dan penyelesaiannya adalah yang paling lama. Ada banyak kemungkinan yang bikin lama, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.

Jadi,  bisa dibilang kunci happy ending ending di drama itu : ketika konflik telah diselesaikan seluruhnya.  Se-buruk nya, se-rumit nya, se-aneh nya, se-kompleks nya konflik di dalam drama, si tokoh yang bersangkutan akan tetap menyelesaikan konflik itu. Iya kan? Dan... Semua tokoh drama pada akirnya berhasil menyelesaikan malasah mereka.

Sekarang aku sedang  menonton drama tentang hidup non fiksi-ku. Aku sudah menontonnya bertahun-tahun hingga sekarang entah sampai kapan bakal datang happy ending ku. Karena aku masih berada di fase konflik dan aku belum menyelesaikannya hingga akhir. Makanya, kalau aku tidak happy ending, itu belum masanya, belum. Sebaliknya, Kalau tidak ada penyelesaian dari konflik ku, aku kabur dari dia, masuk akal**  kah drama hidupku bakal  happy ending?
Selamat nonton drama
Have a good story

**cerita nggak masuk akal : cerita enggak nyambung

Jumat, 09 Februari 2018

Ekstrovert untuk Introvert

“Tebak! Aku termasuk ras ekstrovert atau introvert?“
Apakah diantara kalian ada yang menanyakan pertanyaan sepele tapi memuaskan macam ini ke orang-orang yang mengenal kalian dan pada diri kalian sendiri?

Aku hanya ingin tahu seberapa banyak para pemilik otak terlalu penasaran pada hal tersier seperti ini sejenis otak penasaran milikku. Otak yang malah sering peduli untuk memikirkan berbagai hal tak penting. *Hahaha lebih sepele dan nggak berguna kan alasannya.

Balik lagi tentang ekstrovert dan introvert. Kalau aku menanyakan tentang ini pada diriku sendiri. Aku mengakui dan 80% aku yakin orang-orang yang mengenalku, mengatakan: aku adalah ras introvert. Betul aku introvert. Dari judul tulisan ini saja, kalian yang bahkan hanya sepintas membaca,  akan langsung tahu aku termasuk ras sifat yang mana bilamana kalian ‘cukup’ peka.

Apa kalian nyaman dengan sifatmu itu jika kalian ekstrovert atau introvert? Nyaman dengan sifat itu untuk waktu yang lama, bahkan selamanya? Kalau jawabanya ‘iya’ yang berarti nyaman, kok aku enggak ya? Aku yang introvert juga ingin menjadi ras pemilik sifat ekstrovert. Aku serakah dan bosan menjadi “terlalu” introvert. Paling enggak aku ingin secuil keberanian, kelihaian, keterbukaan, yang menjadi sumber kecerdasan para ras ekstrovert.

Ini karena, sejak dulu aku enggak mengenal banyak orang. Aku benar-benar enggak mau orang-orang tau tentang diriku lebih banyak. Dunia ku hanya untukku, tak mengijinkan orang lain masuk ke dalamnya. Hasil negatif dari penjara yang aku buat untuk diriku sendiri, ketika aku melihat keluar dari jendelanya, aku mengamati, membandingkan dengan manusia lain antara diriku dan mereka, aku menyadari bahwa ras introvert yang mengalir dalam diriku mulai salah aku kembangkan ke arah negatif. Aku menjadi sosok penakut dan pengecut. Bertemu orang diam canggung, tak peduli, sangat pemalu, bicara dengan orang asing seperlunya dan singkat, ada orang baru—kabur menghindar sembunyi, sebisa mungkin menghindari percakapan, mau ngobrol mikir lama dulu karena blank enggak tau mau ngomong apa. Aku bosan dengan sisi diriku yang ini. Aku enggak mungkin bisa hidup seperti yang aku imajinasikan jika sifatku pengecut seperti ini. Dalam hal ini aku butuh kekuatan ras ekstrovert. Bumi sangat luas tempat kita ini dihuni oleh manusia yang tersebar merata keseluruh penjuru. Dimanapun aku berada aku akan bertemu dengan kaumku. Karena aku manusia dan tak bisa aku pungkiri aku adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi.  Kalian tahu kan kalau ini keahlian ras ekstrovert?

Dengan aku berinteraksi untuk mengenal banyak orang, bertemu berbagai jenis manusia, bertemu dengan manusia yang mempunyai berbagai macam sudut pandang, mengetahui berbagai tingkah laku mereka, keberagaman sikap mereka dan keseluruhan apa yang mereka lakukan untuk menjalani masing-masing hidupnya. Singkatnya, aku menjadi penasaran bagaimana mereka mengatasi, menyikapi jalan hidup yang mereka tempuh. Aku mulai belajar banyak hal dari mereka. Hal yang tak mungkin aku pelajari ketika aku mengunci pintu ku terlalu rapat. Bukankah untuk mempelajari ini aku butuh kisah mereka? Dengan apa aku tau kisah mereka? Bagaimana agar mereka mau untuk menceritakan kisahnya untukku? Jawabanya masih sama:  ‘berinteraksi dengan mereka’. Lalu apa gunanya aku belajar dari kisah-kisah mereka? Hmm karena aku nggak perlu jatuh dilubang yang sama dan bukan tidak mungkin aku bisa menaiki tangga yang sama dengan mereka untuk mencapai lantai atas bukan?

Interaksi bukan melulu tentang individu per individu atau dengan segerombolan orang dalam lingkup kecil. Tapi juga interaksi dengan khalayak umum. Maksudku adalah public speaking. Public speaking bertujuan untuk menyalurkan ide, gagasan kita yang sebelumnya hanya berputar-putar diotak kepada audience untuk mempengaruhi, menguasai, mengajarkan, membujuk mereka sesuai tujuan dari apa yang kita utarakan. Makanya para public speakers itu jago ngomong. Nah, komunikasi atau jago ngomong ini paling dibutuhkan kalo kita mau sukses berinteraksi. Supaya nantinya nggak ada lagi kejadian kaku lidah, kaku otak seperti yang selalu aku alami.

Manusia bisa bicara, berbagai macam bahasa. Ini salah satu yang membedakannya dengan hewan. Dan ini juga yang membedakan taraf kecerdasan kita dengan hewan. Ketika kita bertemu orang pertama kali, bukankah yang akan kita nilai setelah penampilan adalah tutur kata? Kita bisa menebak sekilas kepribadian mereka dari cara mereka berkomunikasi. Masalahnya, untuk mengobrol dengan satu orang yang nggak begitu aku kenal saja adalah hal tersulit bagiku sejak awal. Apalagi bertemu banyak orang dikeramaian dan harus menjadi pusat perhatian. Aku tidak tahu bagaimana dan apa yang akan aku lakukan untuk melakukan hal yang aku enggak pernah bisa menikmatinya. Juga untuk mengobrol—menjelaskan sesuatu ke orang terdekatku hingga lidahku rasanya terpelintir, jarang dari mereka yang mengerti maksud apa yang ingin aku sampaikan.

Aku sadari, untuk melalui semua itu aku butuh belajar menumbuhkan keberanian dalam diriku. Keberanian yang membuatku mampu percaya diri. Semakin lama akan memunculkan rasa nyaman dalam diriku lalu akirnya aku juga akan bisa menikmatinya sebab aku akan merasa itu semakin mudah karena aku telah makin mahir melakukanya. Iya hanya sesingkat itu sebenarnya. Tapi, tapi, tapi, kata setelah “tapi” yang menjadi alasanku, selanjutnya menjadi penghalangku karena aku akhirnya terlalu berfokus pada kata dibelakang ‘tapi’ tersebut. ‘Ini akan sulit’, hal yang sejenis itu. Ini sulit, Karena aku hanya belum sepenuh hati mencobanya. Belajar sedikit demi sedikit, setahap demi tahap. Aku tau ini sangat bertentangan dengan sifat diriku. Namun apa salahnya mencoba hal baru yang akan menguntungkan untukku dikemudian hari? Belajar belajar belajar. Semua butuh dipelajari karena manusia enggak akan bisa berhenti belajar. Aku harus belajar berinteraksi, aku harus belajar ngomong. The most important is I should be brave

Memang, ras introvert dan ekstrovert punya ke khas-an masing-masing. Mereka punya caranya sendiri untuk mengekspresikan diri mereka. Contohya, ‘jika ras introvert condong ke menulis, ras ekstrovert condong ke public speaking.  Jadi tidak perlu mengubah apa yang sudah jadi bakat alamiah kita, hanya perlu di asah lagi lebih dalam’. Iya itu benar. Bukankah dengan pola pikir yang seperti itu, aku malah akan membuat pilihan untuk tidak akan berubah juga aku tidak akan pernah mengembangkan diriku? Aku makin terperosok, membusuk dalam penjaraku yang kian lama semakin amblas ke bawah jauh dari permukan bumi.

Keterbukaan juga tak selalu membuatku selalu nyaman pada akhirnya. Aku tetap butuh masa sendiri—sunyi untuk memperoleh rasa nyamanku, ketenangan-ku. Karena sejak awal aku menyukainya. Sudah aku katakan sebelumnya, aku serakah karena ingin menjadi introvert yang juga mampu menjadi ekstrovert. Masing-masing hal pasti ada keuntungan kerugiannya kan? Bukankah jika saling melengkapi akan lebih mengutungkan? Aku akan tahu kapan aku harus berperan sebagai introvert dan kapan aku harus ekstrovert. Itu salah satu alasaku.

Aku kagum dengan kekayaan pemikiran ras introvert dan aku takjub dengan keterbukaan ras ekstrovert. Mereka luar biasa. Nggak ada salahnya kan jadi ambivert? Lebih memudahkan ku beradaptasi.

Btw ras ambivert dari yang aku baca, mereka punya sifat dua duanya dari ras introvert dan ekstrovert. Mungkin juga banyak diantara kalian termasuk ras ambivert. Tapi kebanyakan, walaupun punya sifat keduanya, salah satu yang akan lebih dominan meskipun hanya sedikit jarak perbandingan keduanya. Tinggal upaya kita mau di bawa kemana ‘itu’.

Bagaimana menurut kalian?  
Tinggalin jejak kalian di bawah ya^^